Madrasah sebagai Pendidikan Kelas ‘Satu’

Jika kita simak ” Sebuah harapan dari seorang Menteri Agama RI , yang membawahi Kementrian Agama kedepan mutu lembaga pendidikan agama termasuk madrasah  agar semakin meningkat, sehingga kesan bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan kelas “dua” dapat dihilangkan”, mungkinkah terwujud?

Selama ini lembaga pendidikan ”madrasah” disebagian besar masyarakat Indonesia menganggap sekolah yang hanya mempelajari tentang agama Islam saja. Kementrian Agama identik dengan Agama Islam.  Yang sesungguhnya Madrasah adalah lembaga pendidikan yang setara dengan SD/SMP/SMU di bawah naungan Kemendiknas. Kurikulum yang diterapkan di madrasah adalah sama dengan di sekolah diknas.

 

Dimasyarakat masih banyak yang belum tahu apalagi paham tentang madrasah, bahwa madrasah mempunyai kesetaraan dengan sekolah di diknas. Ini sebuah tantangan bagi kementrian agama untuk seslalu mensosialisasikan di masyarakat bahwa madrasah setara dengan sekolah di diknas.

 

Keunggulan dari madrasah adalah muatan kurikulum khusunya pendidikan agama lebih banyak. Kita ambilkan contoh di sekolah diknas SMU jam pelajaran agama 2 jam per minggu, sedangkan di MA 10 jam per minggu. Untuk itu akan membedakan beban yang yang dipelajari anak-anak di sekolah diknas lebih sedikit, namun kualitas hasil yang diharapkan dari madrasah sama dengan sekolah diknas. Inilah tantangan yang perlu dihadapi di madrasah walaupun beban belajarnya lebih berat.

 

“Madrasah harus menjadi nomor satu,” suatu cita-cita yang amat luhur, tentu perlu diimbangi dengan kerja keras, Ikhlas dalam mengemban tugas untuk meningkatkan kualitas pendidikan madrasah, sesuai dengan Slogan Kemenag. ”Ikhlas Beramal”. Peningkatan anggaran pendidikan di Kemenag perlu ditingkatkan , sarana prasarana mesti memadai, minimal sama dengan yang dimilki sekolah di diknas, dengan demikian peserta didik dapat belajar dan meraih prestasi setinggi-tingginya dapat terwujud.

maka tuntutan kualitas bisa seimbang dengan diknas bisa tercapai.

 

Kementrian agama harus meningkatkan kinerja para pegawainya untuk mencapai cita-cita tersebut. Diperlukan pembinaan dan pengawasan kepada para pegawainya, agar tidak terjerumus kepada tindakan-tindakan yang merugikan negara, masyarakat, keluarga, diri pibadinya.

 

Secara umum pandangan masyarakat Indonesia bawa pegawai kemenag adalah orang-orang yang tahu dan menguasai hal ikhwal terkait segala yang diajarkan dalam agama, namun demikian barangkali masih banyak pegawai kemenag  yang menggunakan aji mumpung berkuasa, sehingga banyak yang berbuat melanggar etika, kejujuran,dan keadilan.

Bisa kita ambil contoh pendapat seorang pembaca di Republika ” Sdr. Tengku menulis =bagus misi pak menag, sayangnya di bawah, di madrasah2, banyak politik terjadi, guru2 yg bermutu dan idealis tersingkir, kepsek dan guru buruk yg berkuasa…mohon dicek hingga ke bawah. dari ortu di pekanbaru”

Harapan Menag juga madrasah tidak menjadi lembaga pendidikan yang terbelakang dan terkungkung, tapi merupakan lembaga pendidikan yang dapat dibanggakan dalam berbagai bidang, baik kesenian maupun olahraga, termasuk juga bahasa asing Arab dan Inggris. Amin.

Ref : Republika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: